Patih Gajah Mada

Standar

Berdasarkan cerita rakyat, Gajah
Mada adalah anak Raja
Majapahit secara tidak sah dengan gadis cantik
anak seorang demang (kepala
desa) Kali Lanang. Anak yang
dinamai Joko Modo atau jejaka
dari Desa Mada itu diperkirakan
lahir sekitar tahun 1300.
Kakek Gajah Mada, yang
bernama Empu Mada, membawa
Joko Modo ke Desa Cancing,
Kecamatan Ngimbang. Wilayah
yang lebih dekat dengan Biluluk,
salah satu pakuwon di Pamotan,
benteng Majapahit di wilayah
utara. Sedangkan benteng
utama berada di Pakuwon
Tenggulun, Kecamatan Solokuro.
Salah satu bukti fisik bahwa
Gajah Mada lahir di Lamongan
ialah situs kuburan Ibunda Gajah
Mada di Desa Ngimbang. Digambarkan, Joko Modo ketika
itu berbadan tegap, jago
kanuragan didikan Empu Mada.Di kemudian hari, dia diterima
menjadi anggota Pasukan
Bhayangkara (pasukan elite
pengawal raja) di era Raja
Jayanegara.
Ia menyelamatkan Jayanegara
yang hendak dibunuh Ra Kuti,
patih Majapahit. Gajah melarikan
Jayanegara ke Desa Badander
(sekarang masuk wilayah
Bojonegoro) di wilayah Pamotan.
Dari bukti-bukti itu, tim
pelacakan Gajah Mada akan
membuat dokumen. Tim akan
bekerja sekitar enam
Sumpah Palapa
Pada waktu pengangkatannya ia
mengucapkan Sumpah Palapa,
yakni ia baru akan menikmati
palapa atau rempah-rempah
yang diartikan kenikmatan
duniawi jika telah berhasil
menaklukkan Nusantara.
Sebagaimana tercatat dalam
kitab Pararaton berikut : “ Sira
Gajah Mada pepatih
amungkubumi tan ayun amukti
palapa, sira Gajah Mada: Lamun
huwus kalah nusantara ingsun
amukti palapa, lamun kalah ring
Gurun, ring Seram, Tañjungpura,
ring Haru, ring Pahang, Dompo,
ring Bali, Sunda, Palembang,
Tumasik, samana ingsun amukti
palapa ”
(Gajah Mada sang Maha Patih
tak akan menikmati palapa,
berkata Gajah Mada “Selama
aku belum menyatukan
Nusantara, aku takkan
menikmati palapa. Sebelum aku
menaklukkan Pulau Gurun,
Pulau Seram, Tanjungpura, Pulau
Haru, Pulau Pahang, Dompo,
Pulau Bali, Sunda, Palembang,
Tumasik, aku takkan mencicipi
palapa.)
Walaupun ada sejumlah (atau
bahkan banyak) orang yang
meragukan sumpahnya, Patih
Gajah Mada memang hampir
berhasil menaklukkan
Nusantara. Bedahulu (Bali) dan
Lombok (1343), Palembang,
Swarnabhumi (Sriwijaya),
Tamiang, Samudra Pasai, dan
negeri-negeri lain di
Swarnadwipa (Sumatra) telah
ditaklukkan. Lalu Pulau Bintan,
Tumasik (Singapura),
Semenanjung Malaya, dan
sejumlah negeri di Kalimantan
seperti Kapuas, Katingan, Sampit,
Kotalingga (Tanjunglingga),
Kotawaringin, Sambas, Lawai,
Kandangan, Landak, Samadang,
Tirem, Sedu, Brunei, Kalka,
Saludung, Solok, Pasir, Barito,
Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei,
dan Malano.
Di zaman pemerintahan Prabu
Hayam Wuruk (1350-1389) yang
menggantikan
Tribhuwanatunggadewi, Patih
Gajah Mada terus
mengembangkan penaklukan ke
wilayah timur seperti Logajah,
Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi,
Gunungapi, Seram, Hutankadali,
Sasak, Bantayan, Luwuk,
Makassar, Buton, Banggai, Kunir,
Galiyan, Salayar, Sumba, Muar
(Saparua), Solor, Bima, Wandan
(Banda), Ambon, Wanin, Seran,
Timor, dan Dompo.
Sumpah Palapa ini ditemukan
pada teks Jawa Pertengahan
Pararaton, yang berbunyi,
Sira Gajah Madapatih
Amangkubhumi tan ayun
amuktia palapa, sira Gajah Mada:
“Lamun huwus kalah nusantara
isun amukti palapa, lamun kalah
ring Gurun, ring Seran, Tañjung
Pura, ring Haru, ring Pahang,
Dompo, ring Bali, Sunda,
Palembang, Tumasik, samana
isun amukti palapa”.
Terjemahannya,
Beliau Gajah Mada Patih
Amangkubumi tidak ingin
melepaskan puasa. Ia Gajah
Mada, “Jika telah mengalahkan
Nusantara, saya (baru akan)
melepaskan puasa. Jika
mengalahkan Gurun, Seram,
Tanjung Pura, Haru, Pahang,
Dompo, Bali, Sunda, Palembang,
Tumasik, demikianlah saya (baru
akan) melepaskan puasa”.
Perang Bubat
Dalam Kidung Sunda diceritakan
bahwa Perang Bubat (1357)
bermula saat Prabu Hayam
Wuruk hendak menikahi Dyah
Pitaloka putri Sunda sebagai
permaisuri. Lamaran Prabu
Hayam Wuruk diterima pihak
Kerajaan Sunda, dan rombongan
besar Kerajaan Sunda datang ke
Majapahit untuk melangsungkan
pernikahan agung itu. Gajah
Mada yang menginginkan Sunda
takluk, memaksa menginginkan
Dyah Pitaloka sebagai
persembahan pengakuan
kekuasaan Majapahit. Akibat
penolakan pihak Sunda
mengenai hal ini, terjadilah
pertempuran tidak seimbang
antara pasukan Majapahit dan
rombongan Sunda di Bubat;
yang saat itu menjadi tempat
penginapan rombongan Sunda.
Dyah Pitaloka bunuh diri setelah
ayahanda dan seluruh
rombongannya gugur dalam
pertempuran. Akibat peristiwa
itu, Patih Gajah Mada
dinonaktifkan dari jabatannya.
Dalam Nagarakretagama
diceritakan hal yang sedikit
berbeda. Dikatakan bahwa
Hayam Wuruk sangat
menghargai Gajah Mada sebagai
Mahamantri Agung yang wira,
bijaksana, serta setia berbakti
kepada negara. Sang raja
menganugerahkan dukuh
“Madakaripura” yang
berpemandangan indah di
Tongas, Probolinggo, kepada
Gajah Mada. Terdapat pendapat
yang menyatakan bahwa pada
1359, Gajah Mada diangkat
kembali sebagai patih; hanya saja
ia memerintah dari
Madakaripura.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s