HUKUM MEMALSUKAN SILSILAH KETURUNAN

Standar

Memalsukan keturunan seorang
anak (nasabnya) kepada yang
bukan ayahnya atau keingkaran
seseorang terhadap anaknya
menurut syariat islam haram
hukumnya.
Dengan kata lain: mengkaitkan
garis keturunan kepada yang
bukan bapaknya atau
mengkaitkan dirinya dengan
suatu suku (kaum) yang bukan
kaumnya dalam hukum Islam
dilarang.
Dalam kenyataan, kita temukan
seorang yang berani melakukan
hal demikian hanya karena
desakan KEPENTINGAN DUNIA, sehingga ia
menetapkan garis keturunan
palsu di dalam surat-surat
resminya.

Beberapa aspek
diatas dapat kacau dan menjadi
rusak oleh sebab adanya
pemalsuan keturunan tersebut.
Dari Imam Ali, bahwasanya
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa mengaku nasab
kepada selain ayahnya dan
memaksakan dirinya kepada
selain walinya (garis
keturunannya) maka baginya
laknat dari Allah SWT, Malaikat
dan sekalian manusia, Allah SWT
tidak akan menerima adanya
penggantian atau pertukaran
nasab secara sembarang dan
serampangan darinya”.
(Muttafaqun Alaih).

Hadist marfu’dari Sa’ad dari Abu
Bakar ra. Nabi SAW bersabda:
“Barangsiapa mengaku
keturunan (menggandengkan
nama ayahnya)kepada yang
bukan ayahnya, sementara dia
sendiri mengetahuinya, maka
surga haram baginya.” (HR.
Bukhori dan Muslim)
Dalam hal keturunan, Islam
melarang memalsukannya.
Begitu pula keberadaan nasab
keturunan, Islam membelahnya,
menetapkan keberadaannya
bahkan harus diakui, dipelihara
dan dipertahankan .
Menurut syariat segala sesuatu
yang mengandung unsur
mempermainkan atau
pemalsuan dalam masalah
keturunan hukumnya
haram .Begitu pula si istri bila
memasukkan anaknya dari garis
keturunan (benih) orang lain
kepada garis keturunan
suaminya yang sebenarnya
bukan dari suaminya, baginya
ancaman yang sangat keras
(berdosa besar).

Sebagaimana disebutkan dalam
suatu riwayat dari Abu Hurairah
ra, bahwa tatkala turun ayat
yang berkenaan dengan kasus
saling melaknat ( tuduhan
dengan melaknat) ia mendengar
bahwa Rasulullah SAW
bersabda:
“Siapapun wanita yang
memasukkan keturunan orang
yang bukan golongan suatu
kaum kedalamnya, dia tidak
akan mendapat sesuatu pun dari
Allah SWT, dan Allah SWT tidak
akan memasukkannya ke surga-
Nya. Dan siapa pun pria yang
mengingkari anaknya, padahal
dia mengetahuinya, maka Allah
SWT akan membentangkan hijab
darinya dan membuka aibnya ke
mata kepala (dipersaksikan
kepada) orang-orang yang
terdahulu maupun yang
terakhir.” (HR Abu Daud dan Ad
Darimi).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s